Tepat di hari ulang tahunku, aku menerima kabar bahwa: laki-laki yang aku kagumi itu telah memilih jalan pulangnya bersama perempuan yang ia pilih. Aku tidak bisa membohongi perasaanku, memang ada perih yang singgah saat itu, bercampur kecewa dan mungkin sedikit patah hati. Namun hanya sebentar, kemudian aku kembali baik-baik saja. Mengaguminya sejak awal membuatku paham bahwa tidak semua hal baik perlu dimiliki. Hari ini, aku memilih tetap menghormati perasaanku sendiri—sambil dengan tulus berbahagia karena ia telah menemukan rumahnya.
Di usia 25 tahun aku mulai jatuh cinta lagi, pada sosok pria yang kutemui di usia 18 tahun, dia adalah kamu. Pada pertemuan pertama di tahun 2017, saat itu kulihat tak ada yang istimewa darimu. Hanya seorang pria berkacamata yang ramah. Anehnya saat itu aku justru menaruh hati pada sosok lain yakni sahabatmu. Hatiku begitu antusias menyambut kembali perasaan cinta yang bermekaran, setelah lama tandus, dia lupa, seperti apa rasanya cinta? 2019, di usiamu yang ke 22 tahun , kamu sudah pergi jauh dari kehidupanku, melanjutkan hidup, mengejar mimpimu dan aku tidak pernah melihatmu lagi sejak saat itu. Bertahun-tahun setelah kamu meninggalkan kota ini, tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiranku tentang kamu. Hingga suatu hari aku teringat— keramahanmu yang menyenangkan, tutur yang selalu hangat di telinga, dan kecerdasan yang meninggalkan jejak di ingatan.. Saat itulah aku sadar, mungk...